Setahu saya awalnya muncul adalah saat krisis ekonomi menimpa negeri ini setelah gelombang reformasi yg begitu gegap gempita dan terjadi eufora sebagian masyarakat yg merusak arti reformasi itu dengan tindakan anarki yg merugikan sebagian anak bangsa lainnya.
Rakyat negeri ini sebenarnya cukup kreatif dalam berkarya dan bekerja yg perwujudannya dengan cara berdagang dan membuat pasar klitikan disekitar monument perjuangan dan lapangan disekitar Pasar Legi, setelah ribuan masyarakat terkena dampak krisis dg PHK massal oleh perusahaan-perusahaan yg tidak kuat menanggung beban terutama yg tidak berbasiskan dana dari dalam negeri/dari hutang.
Karena memang Negara sebagai institusi yg seharusnya mampu menciptakan peluang/kesempatan/lapangan pekerjaan/usaha bagi warganya belum dapat berbuat sebagai mana amanat UUD 45 terutama pasal 28 dan 33, maka dibutuhkan warga Negara yg aktif dan kreatif juga solutif yg memecahkan kebuntuan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup dimana anak dan istri yg menunggu di rumah dan perlu dicukupi kebutuhannya. Sedikit demi sedikit lapak-lapak tidak permanen muncul dan akhirnya sampai memenuhi jalan-jalan di sekitar monument, yg mana pada saat itu memang lahan tersebut cukup menjanjikan dan daerah yg menjadi salah satu urat nadi perekonomian dan jalur lalu lintas masyarakat Solo dan sekitar karena terletak di daerah Pasar Legi yg secara nasional menjadi barometer harga komoditas pertanian dan mencukupi kebutuhan warganya dan juga terletak dekat Stasiun Balapan dan juga terminal Tirtonadi.
Awalnya dari komoditas berupa spare part, accesoris kendaraan bermotor kemudian berkembang ke aneka komoditas, seperti baju, elektronik, maupun berbagai barang bekas yg layak pakai dan tidak dipakai. Harga yang ditawarkanpun cukup murah karena memang barangnya juga barang bekas, tetapi dikemudian hari barang-barang baru (tembakan) juga ada yg tentunya terjangkau harganya bagi warga yg memerlukan aneka kebutuhannya.
Dan dengan perubahan kepemimpinan akhirnya kesemrawutan dan dampak buruk yg ditimbulkan dari adanya Pasar Klitikan ini dari kemacetan, sebutan sebagai pasar maling karena memang tidak menutup kemungkinan barang yg dijual berasal dari aneka tindak criminal, dan juga malemnya digunakan sebagai ajang prostitusi sebaran dari wilayah RRI mulai ditertibkan dan disediakan ruang pengganti di daerah Semanggi. Masyarakat dengan senang hati mengikuti dan diikuti prosesi dimana mereka merasa ikut dimanusiakan tidak dianggap sebagai anggota masyarakat yg merusak tatanan seolah-olah mereka biang ketidaktertiban dan pindah tanpa adanya kekerasan dan tidak ada Tramtib yg biasa membawa tongkat atau pentungan.
YANG DIBUTUHKAN RAKYAT NEGERI INI ADALAH RUANG YG MAMPU MENAMPUNG ASPIRASI RAKYATNYA UNTUK BERKARYA DAN BERTAHAN HIDUP DITENGAH KETIDAKMAMPUAN NEGARA MEWUJUDKAN CITA-CITA YG DIBIKIN DAN DISUSUN DG MENGHABISKAN UANG PAJAK RAKYAT DAN UTANG DARI NEGERI LAIN
Rabu, 22 Oktober 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar